Sayap-Sayap Pemberani...
Gumelar,24 Oktober 2010 jam 22:44Ku usap gelombang kesedihan di rambutmu... Seperti mengusap bumi memerah yang ku pijak ... Selamat tinggal dik... Selamat tinggal...lalu ku kecup lembut kening mu.. Seperti mencium kabut yang selalu hadir setelah hujan.. merambat di hamparan sawah depan rumah kita begitu damai diliputi selaut haru... Dik...Aku tahu kau belum sepenuhnya iklas... aku hargai itu sebagai kewajaran atas beban yang akan kau tanggung....... Malam yang akan terasa lebih lama dan dingin... Pagi yang terasa sepi.. Dan siang yang akan terasa lebih menyengat tanpa pasangan hati yang biasa meneduhimu.... Tapi yakinlah itu akan sepadan dengan apa yang akan kita dapatkan nantinya..... Air mata tak lagi tercegah saat ku bopong buah cinta kita...Maafkan bapakmu nak... Untuk waktu yang lama Tak bisa lagi menggendongmu tiap hari... sekedar merasakan matahari atau mengajakmu melewati pematang waktu untuk bercengkerama dengan kampung halaman nan indah ini..... Tapi aku janji.. Akan menjadikanmu tunas yang tegap tak lapar.. Tunas yang pintar.. dan tak gamang menghadapi kehidupan.. Sekeras apapun itu....? Jika nanti tangis mu tak bisa kureda dengan usapan tulus jemariku...Maka akan kuganti dengan berjuta waktu yang lebih baik di masa datang....Kita akan tersenyum dengan lebih bahagia.. Pelan kurasakan laju mikrobus ini... Berkelok dan pelan mengikuti irama jalan berlubang... pepohonan bertabur di lereng-lerang bukit.. kutatap tak kedip seolah baru pernah melihat..... Mereka melambai...mengucapkan selamat jalan kepadaku ...salah satu putra bumi mereka... berartus bahkan beribu orang telah mendapat perlakuan yang sama... Mendapat lambaian yang sama... Melepas putra-putri terbaiknya ke ujung-ujung bumi untuk menghirup semerbak harapan........ Kampungku adalah bagian kecil dari sebuah negeri..... Negeri yang sampai saat ini pemimpinya belum mamapu mensejahterakan penghuninya.... negeri yang begitu riuh gempita dengan persoalan yang tak kumengerti.. Tapi ternyata mengeluh saja tidak cukup.. tidak cukup hanya mengumpat... tapi kita juga harus berbuat... Aku merasa bersyukur dan bangga dilahirkan di tanah ini... Bebukitan yang curam.. Sawah ladang tadah hujan dan tak begitu subur... Bukit-bukit keras berbatu...jalan penuh kelok naik turun seolah tak putus..... Tuhan ternyata begitu sayang terhadap orang - orang yang dilahirkan di kampung ini.. diantara kekurangan yang ada ternyata Tuhan punya rencana lain.. Di tiupkan ke hati beribu keteguhan.. Disisipkandi pikiran lapang jalan untuk bertahan ... Di tumbuhkan Sayap-sayap pemberani dipundak kami... dan jadilah kampungku sebuah kampung dengan istana-istana rupawan... Kondisi alam kami.. menciptakan pekerja-pekerja tangguh.. yang tidak hanya siap menumpah keringat tapi juga berpisah rindu dengan orang-orang yang di cintainya...beribu hari lamanya.. Alhasil.. kampungku tak kalah berkembang dengan daerah lain yang dimanjakan oleh kondisi alam.... Atau ditakdirkan dekat dengan kota.... Catatan Terkait By. Meghoen |